Berita

Ibu, Hatimu Terbuat dari Apa?

Ilustrasi anak berbicara dengan ibu. Foto: aslysun/Shuttterstock

Apa yang kamu pikirkan tentang sosok inspiratif?

Dan menurutmu, siapa saja yang menjadi sosok inspiratif itu?

Apakah pahlawan kemerdekaan, atau mungkin guru?

Bagiku sosok inspiratif itu adalah ibu, aku tahu begitu banyak cerita pengorbanan nan dilakukan ibu, sehingga menginspirasi banyak orang. Aku bukan orang yang sangat pandai menulis, ini hanya catatan yang terukir di hatiku, semoga kamu senang membaca tulisan ini.

Sosok inspiratif melekat di jiwanya, menjadi bagian dari hidupku yang begitu sangat menyejukkan. Ia mengajarkanku tentang perjuangan, beruntungnya aku menjadi anakmu Ibu. Cerita ini berawal dari ketangguhan ibu, menghadapi ujian hidup nan pahit. Ibuku adalah salah-satu single mother nan ada di dunia ini, ada beberapa alasan yang membuat seorang mengemban dua tugas sekaligus, dari yang positive hingga negative.

Ibuku salah satu wanita yang terpaksa mengemban dua tugas tersebut, karena suaminya memilih menjalani hidup dengan wanita lain. Dari sepenggal cerita ibuku, ayah pergi tanpa kabar seperti menghilang begitu saja tanpa air dan hujan, pergi tanpa sepatah kata pun. Dari kecil hingga kini, hingga sekarang aku berusia 21 tahun, tidak ada sepantar kabar pun soal ayahku. Namun, ini bukan soal kesedihan, aku ingin menceritakan kisah super hero ku, Ibuku, segalanya bagiku.

Untuk bertahan hidup, ibu berjualan minuman es teler keliling menggunakan gerobak, hingga hasil dari penjualan tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit untuk membuat sebuah toko sederhana yang beratapkan kayu, agar ia memiliki tempat untuk berteduh, agar dapat mengasuhku dengan baik. Aku tidak tahu, kapan jelasnya ibuku membuat toko itu, tetapi seingatku sebelum aku masuk sekolah taman kanak-kanak, ibu sudah memiliki toko.

Setiap harinya, ia terus bekerja tanpa henti. Pagi saat azan subuh belum berkumandang, ia sudah sibuk di dapur, mempersiapkan berbagai macam makanan yang akan dijual, seperti gorengan, nasi goreng, dan berbagai macam minuman. Saat waktunya salat subuh, ia berteriak “Dea, Diva bangun. Sudah azan salat lagi”.

Seketika aku dan adik bangun untuk salat subuh, selepas salat kami membantunya untuk membuka toko. Lalu dia akan berteriak dari dapur, menyuruh kami bersiap-siap untuk sekolah. Aku yang awalnya janggal, risih mendengar teriakkanya yang menyuruh kami bersiap-siap agar tidak telat sekolah. Sekarang, malah momen itu yang paling kurindukan.

Momen yang membentuk kepribadianku, kini hal sepele itu menjadi awal dari kehidupan yang kutemui sekarang. Saat ini, aku merupakan salah-satu mahasiswa di Politeknik Negeri Jakarta prodi jurnalistik. Sekarang sebutanku adalah anak rantau, berkat teriakan ibu untuk bangun subuh, kini itu menjelma menjadi kebiasaan.

Orang yang sangat bersemangat untuk menyekolahkan kami, ke sekolah yang sangat baik dari yang paling baik adalah Ibu. Ia selalu mendapatkan informasi terbaru mengenai sekolah, bahkan sampai teman sekolahku, berpikir Ibu adalah guru. Padahal tidak, ia hanya manusia yang mudah bergaul dengan sekitar, hanya itu, dia sangat ramah pada siapa pun itu. Hingga siswa-siswi sekolah dasar menjulukinya, ratu keramahan, begitulah ibuku di mata banyak orang.

Mengenai jurnalistik, sedari dulu aku memang suka menulis, dan sebenarnya ini sedikit menyimpang dari apa yang Ibu impikan. Ibu mengingankan aku menjadi seorang guru di sekolah dasar, untuk membantu banyak orang belajar dan alasan lainnya, ia tidak ingin aku jauh darinya. Ia selalu saja menginginkan anaknya berada bawah ketiaknya, di depan matanya, ia ingin selalu melihat kita bertumbuh kembang di hadapannya, ia tidak ingin kami kesusahan dalam hidup. Perjuangannya selama ini, membuatku tidak merasakan penderitaan meski tidak adanya sosok ayah sepanjang perjalanan hidup.

Ia berhasil membesarkan kami dengan jerih payahnya sendiri, dengan perjuangan tanpa henti dan meminta balasan. Dia terus berjuang meski sedang sakit, hanya untuk anak-anaknya. Ia meneteskan keringat setiap harinya demi kehidupan, demi kesehatan, dan demi masa depan kami.

Berbicara soal kehidupan, Ibu selalu bilang “apa yang terjadi di kehidupannya, jangan untuk kalian tangisi, sebab ini bagian dari ujian, jalani dan temukan solusinya.” Kalimat ini yang melekat di benakku, kadang aku bingung, kenapa ibuku begitu kuat menjalani hidup yang menurut pikirku ‘ini tidak adil’. Secara perlahan-lahan, aku mulai mengerti maksud dari kalimat itu.

“Apa pun yang terjadi, jangan membenci ayah kalian, kalau bukan tanpa dia, kalian tidak akan hadir ke dunia ini.” Hingga sekarang bisa-bisanya, ia selalu mengatakan itu. ‘Jangan membenci ayahmu’ kalimat itu terdengar jadi amat menjijikkan bagiku. Sampai sekarang pun, Ibu masih terus memikirkan soal dia yang disebut sebagai ayah itu. Padahal apa yang telah dialami, itu sangat menyakitkan, tapi bisa-bisanya dia masih memikirkan orang itu.

Kebaikan hati Ibu, kalah dengan hadirnya wanita lain. Aku tidak tahu, siapa wanita yang bersama ayahku sekarang, hanya saja yang disesalkan oleh hatiku, kenapa pergi tanpa kabar? Seolah-olah dia tidak memiliki seorang istri yang harus dilindungi, atau mungkin sebelum dia pergi putuskan dulu hubungannya dengan Ibu, itu saja yang mengganggu pikiranku.

Ibuku pahlawanku, itu benar menjadi kata yang sangat menginspirasi kehidupanku. Dari Ibu aku belajar, bahwa tidak selamanya orang yang ada di hadapanku sekarang akan terus menetap sampai akhir. Mungkin saja ada yang meninggal, atau mungkin pergi tanpa kabar seperti ayah, perpisahan menjadi salah-satu perjalanan hidup yang tidak bisa dihentikan. Selama bernapas, akan ada yang pergi dan datang.

Ini sepenggalan kisah, sosok yang menginspirasi dalam hidupku. Mungkin tulisan ini tidak terlalu baik, atau mungkin kamu mengalami hal yang lebih pahit dari ini. Tetapi, semoga kita, dapat memahami kehidupan tersebut, dari kesedihan hingga menjadi bekal untuk melanjutkan kehidupan lebih baik ke depannya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button