Berita

Ditindas oleh China, Bagaimana Islam Masuk dan Berkembang di Uighur?

Kehidupan Muslim Uighur di Xinjiang. Foto: Wisnu Prasetyo/kumparan

Orang-orang Uighur adalah sebuah bangsa Turkic yang utamanya mendiami wilayah barat laut China atau Wilayah Otonomi Xinjiang dalam negara Republik Rakyat China. Sebelum abad ke-9 M, bangsa Uighur adalah bangsa nomaden yang sering berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya di padang rumput Asia Tengah dan kebanyakan mereka menganut Shamanisme, agama Buddha, hingga Kristen Nestorian. Kota Kashgar yang terletak di wilayah bangsa Uighur adalah kota kuno penting di jalur sutera yang menjadi tempat perjumpaan berbagai kebudayaan seperti Yunani, Arab, Persia, India, dan China. Hal inilah yang membuat corak keberagamaan bangsa Uighur sangat heterogen.

Masuk dan berkembanganya Islam di antara masyarakat Uighur tidak terlepaskan dari dinamika perkembangan Islam di Asia Tengah yang sudah mulai terjadi sejak Dinasti Umayah. Setelah dilanda berbagai pemberontakan, Dinasti Tang yang kekuasaan nya menjangkau kawasan Asia Tengah termasuk wilayah yang didiami bangsa Uighur perlahan mengalami kemunduran hingga dinasti ini ini bubar pada 907. Sebaliknya, di sebelah barat Imperium Islam semakin berkembang pesat setelah menguasai kota-kota strategis Byzantium dan Persia.

Kekuasaan Islam telah menjangkau Kawasan Asia Tengah yang dalam literatur Arab disebut ma wara’a nahr (wilayah di seberang sungai Amu Darya atau Oxus) pada 661-750. Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, Sungai Amu Darya adalah garis batas antara Negeri Iran dan Negeri Turan. Negeri Iran adalah bangsa-bangsa yang berbahasa rumpun Persia sementara negeri Turan adalah wilayah-wilayah yang penduduknya berbahasa rumpun Turkic.

Islam semakin berkembang di Asia tengah ketika Gubernur Umayah, Qutayba ibn Muslim menjadi Gubernur Khurasan semasa pemerintahan Khalifah al-Walid I (705-715). Dari Khorasan inilah pasukan Islam bergerak melintasi sungai Amu Darya untuk menaklukan Transoxiana yang saat ini terdiri dari Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Kazakhstan.

Expedisi Qutaybah inilah yang menjadi titik point penyebaran Islam di Kawasan Asia Tengah yang saat itu mayoritas masih beragama Zoroaster dan Buddha. Ketika Kekuasaan kekhalifahan berpindah dari Umayah ke Abbasiyah, sejak saat itulah dominasi Arab berkurang dan berganti dominasi Persia yang saat itu mendirikan Dinasti Sunni Sammaniyah. Dinasti inilah yang berperan dalam proses Islamisasi bangsa Uighur yang selama ini tidak tersentuh oleh kekuatan kekhalifahan Islam.

Pada abad ke-10 penguasa salah satu dinasti bangsa Uighur, Karakhanid Satuq Bughra Khan memeluk agama Islam. Proses di menjadi Muslim tidaklah mudah. Penguasa sebelumya yang juga paman dari Satuq, yang bernama Oghulcak memusuhi Islam dan berusaha menghalangi penyebaran agama ini. Oghulcak diketahui bermusuhan dengan dengan Ismail ibn Mansur, penguasa Dinasti Shamaniyah saat itu.

Dalam sebuah Riwayat, sebagaimana dikutip Novi Basuki dalam historia.id disebutkan bahwa pada suatu hari Satuq yang berumur 12 tahun bepergian ke Artush, Kashgar, untuk melihat kafilah dagang. Di sana ia melihat orang sedang melaksanakan salat berjemaah. I bertanya kepada pemimpin daerah itu, Nashr ibn Mansur yang merupakan saudara Ismail ibn Mansur tentang apa yang mereka lakukan.

Nashr menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan salat lima waktu. Nashr juga menjelaskan Panjang lebar tentang Islam kepada Satuq hingga ia tertarik dan masuk Islam saat itu juga. Satuq pun dianggap sebagai orang yang pertama yang memeluk agama islam di Kawasan Kasghar dan Fergana. Ia juga memerintahkan pengawalnya masuk Islam.

Satuq merahasiakan keislamannya dari pamannya Oghulcak. Ia diam-diam belajar Al Quran dan ilmu syariat dan mendakwahkan Islam kepada para koleganya hingga pengikutnya semakin bertambah. Ketika mulai curiga, pamannya memaksa Satuq untuk membangun kuil untuk memastikan keponakannya itu bukan seorang muslim.

Karena takut, Satuq mengikuti perintah pamannya sambal berdoa suatu saat ia dapat mengubah kuil itu menjadi masjid dan ia menjadi imamnya. Impian Satu terwujud ketika ia berumur 25 tahun saat ia menghimpun 300 kavaleri dari Kashgar dan 1000 mujahidin dari Fergana untuk menggulingkan pamannya. Pamannya yang masih kafir itu berhasil didepak. Kemenangan berpihak kepada Satuq dan ia menjadi raja. Semua rakyatnya pun memeluk Islam.

Saat bertakhta, Satuq sangat berjasa dalam proses penyebaran Islam di wilayah Xinjiang selatan. Islam semakin meluas di Xinjiang setelah Satuq meninggal karena anak cucunya terus melanjutkan perjuangan dakwah Islam. Mereka juga terus melebarkan kekuasaan Islam hingga ke Khotan, sebuah kerajaan Buddha yang bertetangga dengan Karakhanid.

Pada abad-abad berikutnya bangsa Uighur berada dalam kekuasaan beberapa dinasti Turki dan Mongol. Pada tahun 1513 misalnya, Uyghur berada dalam dominaso Chagatay. Selama periode ini mereka menjadi bagian dari kultur Islam-Turki. Hal ini merupakan hasil dari sebuah proses panjang yang sedikit sekali terdokumentasikan yang di antaranya adalah ketika bangsa mongol masuk Islam, maka mereka mulai menggunakan bahasa Turkic.

Selain itu, penguasa-penguasa lokal uslim berusaha untuk menjadikan Islam sebagai identitas dan legitimasi dalam peperangan melawan kaum kafir. Ketika kota Komul jatuh ke tangan pemerintahan Islam, Islam Sunni telah diterima secara luas di lembah Tarim dan Cagatay beserta tersebarnya bahasa Turkic sebagai bahasa kesusastraan. Sejumlah masjid juga dibangun di sepanjang jalur perdagangan antara Asia Tengah dan Cina. Sekalipun ekspansi Muslim di wilayah perbatasan Cina terhambat oleh kekuatan Mongol Oirat, sejumlah masyarakat Asia Tengah di luar Mongolia dan Tibet telah menjadi Muslim dan berada dalam kekuasaan pemerintahan Islam.

Wujud dari pengaruh Islam yang sangat menonjol dalam masyarakat Uighur adalah peran para Khwaja, atau para Sufi yang diklaim memiliki garis keturunan dan sanad keilmuan kepada Rasulullah dan beberapa khalifah awal. Lipidus dalam The History of Islamic Societies menyebut bahwa kebanyakan dari khwaja adalah para wali pengelana, tabib, dan tokoh-tokoh agama yang dianggap memiliki karomah. Secara bertahap para khwaja ini memiliki pengaruh spiritual lebih kuat daripada para penguasa sekuler. Mereka juga menjadi murid dari beberapa tokoh sufi terkenal. Misalnya, seorang guru Sufi di Bukhara menjadi guru bagi para khwaja di Kashgar dan Yarkand.

Ketika Khan Chaghatay, Khawaja, dan kepala suku-suku lokal memerintah Turkistan Timur, berdirilah sebuah imperium baru Oirat-Mongol yang merupakan imperium besar bangsa nomadic Asia Tengah yang paling akhir yang dinamakan konfederasi Dzungarian. Imperium ini dikatakan menganut kepercayaan Lamaisme Tibetan. Namun dalam menjalankan pemerintahan, mereka mengangkat para Khwaja sebagai kaki tangan mereka. Melalui persekutuan dengan penguasa agama dan politik muslim di Kashgar dan Yarkand, Dzungarian berhasil merebut kota-kota Oasis di Turkistan Timur dengan memberikan kekuasaan untuk wilayah itu kepada para Khwaja.

Sayangnya, ekspansi Dzungarian di wilayah-wilayah Turkistan Timur memancing intervensi bangsa Cina. Cina memang telah lama memandang Kawasan Asia Tengah sebagai wilayahnya. Pada tahun 1759 bangsa Cina mengalahkan Dzungarian. Mereka merebut kota-kota Oasis, mengusir para Khwaja, dan merebut Turkistan Timur. Setelah itulah bangsa Uighur berada dalam cengkeraman penjajahan Cina hingga saat ini.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button