Berita

Laba Bersih BFI Finance Turun 28,97 Persen di Kuartal I 2024, Ini Penyebabnya

BFI Finance Indonesia. Foto: dok. BFI Finance

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) membukukan laba bersih senilai Rp 361,4 miliar pada kuartal I 2024. Nilai tersebut menurun hingga 28,97 persen jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono, mengatakan penurunan laba bersih ini diiringi dengan total pendapatan mencapai Rp 1,6 triliun, menurun 5,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Piutang pembayaran secara tahunan juga turun menjadi Rp 1,44 triliun.

“Dengan pergerakan ekonomi yang cukup dinamis di triwulan pertama ini yang diwarnai dengan perhelatan pilpres, momentum Ramadan, serta kondisi geopolitik, kami tetap fokus menerapkan risk appetite yang konservatif pada penyaluran kredit yang disetujui untuk menjaga kualitas aset dan fundamental bisnis perusahaan,” ujar Sudjono melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat (26/4).

Berdasarkan piutang pembiayaan yang dikelola, bisnis BFI Finance masih didominasi oleh produk pembiayaan beragun kendaraan roda empat dan roda dua sebesar 61,7 persen. Diikuti dengan pembiayaan untuk pembelian unit kendaraan roda empat bekas dan baru sebesar 14,9 persen, pembiayaan alat berat dan mesin 14,7 persen, pembiayaan beragun sertifikat properti 4,5 persen, serta pembiayaan lainnya 4,2 persen.

Portofolio pembiayaan dengan tujuan sektor produktif terlapor paling banyak, yakni sebesar 58,2 persen untuk pembiayaan modal kerja. Di samping itu, pembiayaan investasi sebesar 20,1 persen, pembiayaan multiguna 18,7 persen, dan berbasis syariah 3,0 persen.

Sementara itu, performa imbal hasil rata-rata atas aset dan imbal hasil rata-rata atas ekuitas masing-masing menempati level 7,5 persen dan 14,9 persen.

Nilai total aset perusahaan yang dilaporkan sebesar Rp 24,2 triliun. Nilai ini meningkat 0,9 persen yoy dibandingkan nilai di kuartal I 2023 yaitu Rp 24 triliun. Sudjono mengatakan, besarnya kelolaan aset yang dimiliki oleh perusahaan saat ini turut terkontribusi dari total piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) sebesar Rp 22,5 triliun hingga Maret ini, dengan nilai pembiayaan baru tercatat sebesar Rp 4,8 triliun.

Lebih lanjut, rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) berhasil ditekan hingga berada di level 1,24 persen bruto dan 0,23 persen neto per 31 Maret 2024.

Untuk strategi dan arah bisnis tahun 2024, Sudjono mengatakan, terdapat pengembangan produk keuangan baru serta optimalisasi produk yang sudah berjalan saat ini. Hal tersebut diyakini dapat mendukung target pertumbuhan bisnis perusahaan seiring dengan upaya mengembangkan teknologi terkini. Hal ini guna mendukung pengembangan bisnis perusahaan yang berbasis teknologi end-to-end dan berkelanjutan.

“Nilai tercatat untuk intangible asset atau aset tak berwujud peranti lunak meningkat sekitar 58,4 persen YoY dari Rp 151,8 miliar menjadi Rp 240,4 miliar, di mana biaya ini dikeluarkan untuk mengakselerasi pengembangan teknologi sistem operasional bisnis perusahaan,” pungkasnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button